Tulisan terakhir di blog ini tetap relevan sampai detik ini. Mungkin itu sebabnya, tak satu tulisan pun berhasil diposting selama tahun 2011 ini.
Setelah empat bulan melepas status mahasiswa, 25 Agustus 2010, saya menerima sk pjs di salah satu divisi di Salman. Sejak saat itu sampai sekarang saya beraktivitas full time di Masjid yang banyak memberi kontribusi pada pematangan pemikiran saya.
Saya menjalani aktivitas sehari-hari di Salman, meski demikian jauh dalam lubuk hati, menjadi ilmuwan adalah impian saya. Semangat itulah yang menjadi bekal landasan agar saya tetap istiqomah ketika bertemu berbagai permasalahan dan konflik di Salman.
Momen liburan atau sekedar long week end seringkali memberi kesempatan saya bertemu dengan teman lama. Mereka biasanya hanya mampir untuk sholat, makan, beristirahat ketika berkunjung di kota Bandung. Kangen sholat dan makan di kantin salman katanya. Komentar yang hampir sama dikatakan setiap orang pada saya, ‘Arry betah ya di Salman’ dan jawaban saya selalu ‘iya’:).
Saya memang betah di Salman karena banyak hal bisa dilakukan dan terjadi di Salman. Salah satu hal yang paling saya syukuri di Salman adalah bertemu dengan orang-orang dengan impian yang besar. Seperti kata pepatah, kita hidup dari harapan. Tanpa harapan hidup tidak ada artinya. Mimpi yang memberi kami semua yang ada di Salman harapan-dan ‘pr’ masih banyak yang bisa dilakukan dan harus diselesaikan di tengah kemelut permasalahan peradaban masa kini.
Meski saya tidak sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Rasanya selama di Salman saya tidak bisa berhenti belajar. Karena berada di Salman telah membuka satu jendela kesadaran pada diri saya, bahwa selama ini pemahaman saya tentang islam baru menyentuh permukaan. Banyak sudut pandang baru yang menguatkan keyakinan saya bahwa ilmu Allah begitu luas. Jauh lebih luas dibandingkan kemampuan berpikir manusia.
Bertemu orang yang berbeda. Itu adalah salah satu hikmah yang bisa membuka lembar catatan saya di Salman. Prinsip salman yang tidak membawa bendera kedalam masjid, memungkinkan saya bertemu dengan berbagai macam kalangan. Ini sedikit memberi pencerahan dan jawaban pada tulisan terakhir saya di 2010 lalu tentang perbedaan di umat islam.
Kotak-kotak perbedaan itu memang ada. Bukannya memperkokoh benteng kotak tersebut, seperti yang kebanyakan orang lakukan saat ini. Namun meleburkannya dengan cara: membuka lebar-lebar pikiran kita untuk berbagai perbedaan tersebut. Mencari tahu latar belakang perbedaannya, lalu menentukan pilihan pada satu prinsip yang sesuai dengan keyakinan kita tanpa menyerang orang lain yang berbeda dengan keyakinan kita.
akhirnya.. ada post 2011 yang bisa saya tulis. Sampai jumpa di Salman 2012

Januari 24th, 2012 at 12:25 pm
Masya Alloh, ko Arry bisa baca pikiran saya
quote yg bagus dari dosennya. Tulisan ini membuat saya mengenang beberapa pemikiran masa lalu.. Jazakillah