father and son

Saya ‘resign’ dari aktivitas di masjid kampus Ganesha karena tuntutan menyelesaikan tesis September 2009 lalu. Mulai pertengahan Mei 2010 lalu, tak disangka saya kembali terlibat dengan dunia ke’orang tua-an’ (baca:parenting) ini. Karena, sejak saya berhenti, program parenting belum pernah diadakan lagi. Harapannya, akan ada regenerasi, sehingga program ini bisa berjalan lagi.

Dengan persiapan yang sangat singkat (H-satu bulan) akhirnya program ini dapat digelar lagi. Besok adalah pertemuan ke-3 dari tujuh pertemuan. Malam ini, ‘the parenting team’ membulatkan tekad untuk menyiapkan modul materi yang sudah tertunda selama dua pertemuan. Coba bayangkan, dini hari begini masih ada di Gedung Kayu demi modul parenting! Hatur nuhun, buat Teh Silvi yang sempat membawakan martabak coklat untuk pengganti makan malam. Juga rela melewatkan nonton bareng pertandingan bola tim favoritnya Jerman vs Argentina (sembari menebak-nebak saat tetangga atas tiba-tiba teriak score terakhir 4-0 untuk Jerman :p). Makasih juga untuk Adinda yang terpaksa pulang malam, dan rela melanjutkan perjuangan ngeprint modul di rumah, di saat kepulangan suaminya dari Jakarta. Semoga semua upaya kita, mendapat ridho dari-Nya ya teman-teman.

Oya, di paling atas adalah video milik Ronan Keating dan Yusuf Islam, tentang dialog ayah dan anak laki-lakinya. Saya jadi ingat salah satu topik yang ‘kurang populer’ mengenai peran ayah dalam mendidik anak. Sembari menanti printer kami bekerja, saya copy pastekan tulisan tentang ayah dan anak yang pernah di muat di salah satu newsletter parenting kami. Karena saat ini, masih banyak orang yang salah kaprah dengan pendidikan anak. Kebanyakan mereka berpikir bahwa ibu yang paling berperan dalam pendidikan anak. Buktinya, setelah lima angkatan berlangsung, bapak-bapak yang ikut parenting tidak lebih dari 10 persen. Padahal tidak demikian menurut islam, lebih lanjutnya silahkan baca artikel di bawah.

Peranan Ayah dalam Mendidik Anak
oleh: Adriano Rusfi, Psi.

Sebenarnya bukan hanya di dunia, di akhiratpun manusia-manusia beriman masih berkemungkinan untuk beroleh passive income : pahala yang terus mengalir walau badan telah berkalang tanah ! Pilihannya memang tak banyak, hanya tiga. Pertama shadaqah yang` punya multiplying effect (shadaqah jariyah); Kedua, ilmu yang dimanfaatkan, dan; Ketiga, anak shaleh yang mendoakan.

Apakah seorang ayah ingin terus dialiri pahala walau maut telah lama menjemput, lewat anak shaleh yang mendoakannya ? Sayangnya doa ini tidak gratis. Mari kita lihat bunyi doanya :

“Rabbighfir lii wa li walidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiiraa”.
“Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Dan rahmatilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidikku di waktu kecil”.

Sangat jelas, doa ini tidak gratis, karena menuntut syarat (”kamaa…”). Dan syaratnya adalah pendidikan (”rabbayaa” – tarbiyyah) di waktu kecil (”shaghiiraa”). Apakah syarat ini hanya berlaku pada Sang Ibu ? Jelas tidak, karena kata ”rabbayaanii” berarti ”keduanya telah mendidik aku”.
Maka, wahai para ayah kaum beriman sedunia, ada effort yang harus anda keluarkan jika anda ingin kecipratan doa anak anda. Anda harus mendidiknya. Segera, jangan sampai terlambat, karena harus dilakukan ketika sang anak masih kecil (shaghiiraa). Atau anda harus gigit jari karena doa itu hanya sah untuk istri anda.

Ayah, Sang Pendidik
Seorang anak lahir karena adanya kromosom ayah dan kromosom ibu. Maka pada setiap anak tersimpan sifat maskulin dan feminin, apapun jenis kelaminnya. Adalah sangat logis jika ayah, bukan hanya ibu, turut bertanggung jawab dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Jika ibu mendidik nilai-nilai cinta, ketulusan, kasih sayang, kebersamaan, tenggang rasa dan keikhlasan, lalu siapa yang akan membentuk nilai-nilai ketegasan, keberanian, keberbedaan, profesionalisme dan perjuangan ?

Ayah ! Perannya dalam pendidikan anak bukanlah peran tambahan. Waktu dan tenaga yang harus digunakannya untuk mendidik anak bukanlah waktu dan tenaga sisa seusai lelah mencari nafkah. Maka Allah telah menjadikan sosok Luqmanul Hakim, seorang ayah, menjadi figur pendidikan anak dalam Al-Qur’an. Kenapa ayah dan bukan ibu ? Karena puncak dari seluruh ikhtiar pendidikan adalah pembentukan hikmah : kebijaksanaan. Dan inilah kekuatan Luqman dan seluruh ayah beriman di muka bumi ini.
”Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman…” (Q.S. Luqman : 12)

Ayah dan ibu secara bersama-sama harus mengantar anak-anaknya menuju kedewasaan, aqil-baligh. Aqil artinya dewasa mental, sementara baligh adalah dewasa fisik. Tugas ibu sangat jelas dan sesuai dengan peran kesehariannya, yaitu mengantar anak menggapai kedewasaan fisiknya (baligh). Ia siapkan makanan bergizi, ia jaga kebersihan tubuh, pakaian dan lingkungan. Ia mandikan anak dan cucikan bajunya. Ibu juga mengobati sang anak dari sakit, memberinya vitamin dan protein, membangunkannya untuk shalat dan berolahraga. Kedewasaan emosional berupa perhatian, cinta, kasih sayang, ketulusan dan sebagainya juga telah ia berikan.

Maka giliran ayahlah mengantarkan anak pada kedewasaan mentalnya (aqil). Ayah harus mengajarkannya berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan berkreasi. Adalah kompetensi ayah untuk membuat anaknya menjadi pribadi yang berani, tegas, bertanggung jawab dan berdaya juang. Bahkan, kalau perlu, ayahlah yang mendidik anaknya, laki-laki atau perempuan, untuk tampil beda, melawan, bertarung dan berperang. Begitu pula dengan rasa tanggung jawab, profesionalisme dan bertindak strategis.

Jika saat ini yang terbentuk adalah sebuah generasi yang dewasa secara fisik (baligh) namun sangat mentah secara mental (aqil), alias generasi remaja (baligh-non aqil), siapakah yang bersalah ? Tak salah lagi, malapetaka generasi ini adalah ulah ayah yang tak terlibat dalam mendidik anaknya. Karena dulu, ketika ayah masih bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya, yang lahir adalah generasi yang sepenuhnya dewasa (aqil-baligh). Setidaknya itulah yang terjadi hingga akhir abad 19.

Sebuah penelitian menarik dari Badan Narkotika Propinsi DKI Jakarta, juga menyimpulkan bahwa remaja yang kurang dekat dengan sosok ayahnya akan lebih mudah terkena narkoba dibandingkan dengan remaja yang dekat dengan sosok ayahnya. Kesimpulan yang tak terlalu mengejutkan, karena bukankah ayah yang berkompeten dan seharusnya mengajarkan anak untuk ”Say no to drugs” ?

Sibuk ?
Kesibukan mencari nafkah seringkali menjadi kambing hitam yang`sangat ampuh bagi seorang ayah untuk lepas tangan dari pendidikan anak dan menyerahkan tanggung jawab ini seutuhnya kepada ibu. Sesibuk apakah ayah dibandingkan ibu ? Apakah kesibukan itu termasuk main games menjelang pulang kantor, bercengkrama atau menbaca`koran ketika tak banyak kerjaan, atau nongkrong di kafe menunggu kemacetan reda ? Ketika seorang ayah begitu dikepung oleh berbagai kemudahan teknologi informasi dan komunikasi (HP, Blackberry, internet dsb.), apakah masih ada cukup alasan di hadapan Allah untuk tidak turut mendidik anak?

Tentunya seorang ayah tak dituntut untuk secara teknis dan rutin mengurusi pendidikan anak. Ia dapat berperan menjadi pengarah (director) kebijakan pendidikan anak, sedangkan pengelola (manager) dan pelaksana (executor) tetap dapat dilakukan ibu. Sudahkan ayah merumuskan visi, misi dan strategi pendidikan anak di rumah, sesuatu yang dengan terampilnya dia lakukan di kantor? Betapa zalimnya seorang ayah jika hal itupun jika ia bebankan kepada istrinya.

Ayah juga dapat berperan sebagai konsultan pendidikan anak bagi istrinya. Dalam keletihan, kepusingan dan kebosanan dalam menghadapi perilaku anak setiap hari, bukankah seorang istri butuh second opinion dari seseorang suami yang mampu melihat persoalan dari ”jauh” dari ”luar” dan dari ”atas”? Justru jarang dan terbatasnya interaksi rutin dan langsung seorang ayah dengan anak-anaknya, membuatnya lebih mampu untuk menawarkan solusi yang lebih brilyan, jernih, obyektif dan efektif kepada istrinya.

Wallahu ’alam bishawab

Akhirnya modul terakhir selesai, selesai pula tulisan di blog ini. (Lho, asa ngga nyambung! hehe.. gapapa lah).

Tentang purnaning

Saya Arry Setya Purnaning. Anak kedua dari lima bersaudara. Merasa mempunyai hobi menulis, tetapi sangat jarang menulis. Teringat pesan seorang dosen, jika kita tertawa ketika membaca tulisan kita di masa lalu, berarti kondisi kita telah mengalami kemajuan. Berbekal dari hal tersebut, blog ini saya buat, salah satunya untuk mengukur pembelajaran pada diri saya. Selamat datang ke Blog saya, terima kasih sudah mampir, semoga ada manfaat yang bisa diambil. Wassalam Lihat semua yang ditulis oleh purnaning

10 Tanggapan to “father and son”

  • euis asriani

    arryw..pkbr?ihh subhanallah..kangen LMS, salman, kangen parenting, dan kegiatan serupa..mg Allah membalas kebaikan dan perjuangan parenting team dengan pahala berlipat..kapan ya saya bisa berkegiatan seperti itu lagi??

  • lesly

    makasi reviewnya ri..
    peran ayah ibu jadi terlihat berimbang. jadi pingin ngadain yang komprehensif di sini, karena selama ini baru seminar-seminar yang 1x datang saja.

    ehm, arry jadi berbekal diri juga nih sambil panitia-in parenting class :) good luck

    • purnaning

      hehe.. iya Ly Alhamdulillah memang banyak sekali ilmu yang bisa dipetik, setidaknya jadi ga anti denger suara tangis anak-anak..

      kalo memang memungkinkan adain aja Ly, apalagi denger-denger pendidikan anak di jepang jauuuh lebih maju dan islami dari Indonesia..

  • Agung

    Artikelnya inspiring, ry. Tapi kabar baiknya nampaknya semakin ke sini kesadaran di ayah2 juga semakin meningkat dengan semakin banyaknya pembahasan dan literatur mengenai peran ayah dalam mendidik anak.

  • iza

    arry, ngga sengaja nemu blog arry.

    assalamu’alaikum…ry

    iya, jadi mengingat nasehat seorang ustadz. Justru
    peran seorang ayahlah yang memberi nasehat dan membimbing anaknya.

  • kak zepe, lagu2anak.blogspot.com

    Artikel menarik dan blog yang luar biasa…
    Salam kenal sebelumnya. Saya Kak Zepe. Saya penulis lagu anak…
    Saya punya artikel parenting tips dan kumpulan lagu anak…
    Blog saya adalah LAGU2ANAK.BLOGSPOT.COM
    Berminta tuker link??

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.