Tulisan terakhir di blog ini tetap relevan sampai detik ini. Mungkin itu sebabnya, tak satu tulisan pun berhasil diposting selama tahun 2011 ini.
Setelah empat bulan melepas status mahasiswa, 25 Agustus 2010, saya menerima sk pjs di salah satu divisi di Salman. Sejak saat itu sampai sekarang saya beraktivitas full time di Masjid yang banyak memberi kontribusi pada pematangan pemikiran saya.
halaman depan masjid Salman ITB
Saya menjalani aktivitas sehari-hari di Salman, meski demikian jauh dalam lubuk hati, menjadi ilmuwan adalah impian saya. Semangat itulah yang menjadi bekal landasan agar saya tetap istiqomah ketika bertemu berbagai permasalahan dan konflik di Salman.
Momen liburan atau sekedar long week end seringkali memberi kesempatan saya bertemu dengan teman lama. Mereka biasanya hanya mampir untuk sholat, makan, beristirahat ketika berkunjung di kota Bandung. Kangen sholat dan makan di kantin salman katanya. Komentar yang hampir sama dikatakan setiap orang pada saya, ‘Arry betah ya di Salman’ dan jawaban saya selalu ‘iya’:).
Saya memang betah di Salman karena banyak hal bisa dilakukan dan terjadi di Salman. Salah satu hal yang paling saya syukuri di Salman adalah bertemu dengan orang-orang dengan impian yang besar. Seperti kata pepatah, kita hidup dari harapan. Tanpa harapan hidup tidak ada artinya. Mimpi yang memberi kami semua yang ada di Salman harapan-dan ‘pr’ masih banyak yang bisa dilakukan dan harus diselesaikan di tengah kemelut permasalahan peradaban masa kini.
Meski saya tidak sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Rasanya selama di Salman saya tidak bisa berhenti belajar. Karena berada di Salman telah membuka satu jendela kesadaran pada diri saya, bahwa selama ini pemahaman saya tentang islam baru menyentuh permukaan. Banyak sudut pandang baru yang menguatkan keyakinan saya bahwa ilmu Allah begitu luas. Jauh lebih luas dibandingkan kemampuan berpikir manusia.
Bertemu orang yang berbeda. Itu adalah salah satu hikmah yang bisa membuka lembar catatan saya di Salman. Prinsip salman yang tidak membawa bendera kedalam masjid, memungkinkan saya bertemu dengan berbagai macam kalangan. Ini sedikit memberi pencerahan dan jawaban pada tulisan terakhir saya di 2010 lalu tentang perbedaan di umat islam.
Kotak-kotak perbedaan itu memang ada. Bukannya memperkokoh benteng kotak tersebut, seperti yang kebanyakan orang lakukan saat ini. Namun meleburkannya dengan cara: membuka lebar-lebar pikiran kita untuk berbagai perbedaan tersebut. Mencari tahu latar belakang perbedaannya, lalu menentukan pilihan pada satu prinsip yang sesuai dengan keyakinan kita tanpa menyerang orang lain yang berbeda dengan keyakinan kita.
akhirnya.. ada post 2011 yang bisa saya tulis. Sampai jumpa di Salman 2012
Saya ‘resign’ dari aktivitas di masjid kampus Ganesha karena tuntutan menyelesaikan tesis September 2009 lalu. Mulai pertengahan Mei 2010 lalu, tak disangka saya kembali terlibat dengan dunia ke’orang tua-an’ (baca:parenting) ini. Karena, sejak saya berhenti, program parenting belum pernah diadakan lagi. Harapannya, akan ada regenerasi, sehingga program ini bisa berjalan lagi.
Dengan persiapan yang sangat singkat (H-satu bulan) akhirnya program ini dapat digelar lagi. Besok adalah pertemuan ke-3 dari tujuh pertemuan. Malam ini, ‘the parenting team’ membulatkan tekad untuk menyiapkan modul materi yang sudah tertunda selama dua pertemuan. Coba bayangkan, dini hari begini masih ada di Gedung Kayu demi modul parenting! Hatur nuhun, buat Teh Silvi yang sempat membawakan martabak coklat untuk pengganti makan malam. Juga rela melewatkan nonton bareng pertandingan bola tim favoritnya Jerman vs Argentina (sembari menebak-nebak saat tetangga atas tiba-tiba teriak score terakhir 4-0 untuk Jerman :p). Makasih juga untuk Adinda yang terpaksa pulang malam, dan rela melanjutkan perjuangan ngeprint modul di rumah, di saat kepulangan suaminya dari Jakarta. Semoga semua upaya kita, mendapat ridho dari-Nya ya teman-teman.
Oya, di paling atas adalah video milik Ronan Keating dan Yusuf Islam, tentang dialog ayah dan anak laki-lakinya. Saya jadi ingat salah satu topik yang ‘kurang populer’ mengenai peran ayah dalam mendidik anak. Sembari menanti printer kami bekerja, saya copy pastekan tulisan tentang ayah dan anak yang pernah di muat di salah satu newsletter parenting kami. Karena saat ini, masih banyak orang yang salah kaprah dengan pendidikan anak. Kebanyakan mereka berpikir bahwa ibu yang paling berperan dalam pendidikan anak. Buktinya, setelah lima angkatan berlangsung, bapak-bapak yang ikut parenting tidak lebih dari 10 persen. Padahal tidak demikian menurut islam, lebih lanjutnya silahkan baca artikel di bawah.
Peranan Ayah dalam Mendidik Anak
oleh: Adriano Rusfi, Psi.
Sebenarnya bukan hanya di dunia, di akhiratpun manusia-manusia beriman masih berkemungkinan untuk beroleh passive income : pahala yang terus mengalir walau badan telah berkalang tanah ! Pilihannya memang tak banyak, hanya tiga. Pertama shadaqah yang` punya multiplying effect (shadaqah jariyah); Kedua, ilmu yang dimanfaatkan, dan; Ketiga, anak shaleh yang mendoakan.
Apakah seorang ayah ingin terus dialiri pahala walau maut telah lama menjemput, lewat anak shaleh yang mendoakannya ? Sayangnya doa ini tidak gratis. Mari kita lihat bunyi doanya :
“Rabbighfir lii wa li walidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiiraa”.
“Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Dan rahmatilah keduanya, sebagaimana keduanya telah mendidikku di waktu kecil”.
Sangat jelas, doa ini tidak gratis, karena menuntut syarat (”kamaa…”). Dan syaratnya adalah pendidikan (”rabbayaa” – tarbiyyah) di waktu kecil (”shaghiiraa”). Apakah syarat ini hanya berlaku pada Sang Ibu ? Jelas tidak, karena kata ”rabbayaanii” berarti ”keduanya telah mendidik aku”.
Maka, wahai para ayah kaum beriman sedunia, ada effort yang harus anda keluarkan jika anda ingin kecipratan doa anak anda. Anda harus mendidiknya. Segera, jangan sampai terlambat, karena harus dilakukan ketika sang anak masih kecil (shaghiiraa). Atau anda harus gigit jari karena doa itu hanya sah untuk istri anda.
Ayah, Sang Pendidik
Seorang anak lahir karena adanya kromosom ayah dan kromosom ibu. Maka pada setiap anak tersimpan sifat maskulin dan feminin, apapun jenis kelaminnya. Adalah sangat logis jika ayah, bukan hanya ibu, turut bertanggung jawab dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Jika ibu mendidik nilai-nilai cinta, ketulusan, kasih sayang, kebersamaan, tenggang rasa dan keikhlasan, lalu siapa yang akan membentuk nilai-nilai ketegasan, keberanian, keberbedaan, profesionalisme dan perjuangan ?
Ayah ! Perannya dalam pendidikan anak bukanlah peran tambahan. Waktu dan tenaga yang harus digunakannya untuk mendidik anak bukanlah waktu dan tenaga sisa seusai lelah mencari nafkah. Maka Allah telah menjadikan sosok Luqmanul Hakim, seorang ayah, menjadi figur pendidikan anak dalam Al-Qur’an. Kenapa ayah dan bukan ibu ? Karena puncak dari seluruh ikhtiar pendidikan adalah pembentukan hikmah : kebijaksanaan. Dan inilah kekuatan Luqman dan seluruh ayah beriman di muka bumi ini.
”Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman…” (Q.S. Luqman : 12)
Ayah dan ibu secara bersama-sama harus mengantar anak-anaknya menuju kedewasaan, aqil-baligh. Aqil artinya dewasa mental, sementara baligh adalah dewasa fisik. Tugas ibu sangat jelas dan sesuai dengan peran kesehariannya, yaitu mengantar anak menggapai kedewasaan fisiknya (baligh). Ia siapkan makanan bergizi, ia jaga kebersihan tubuh, pakaian dan lingkungan. Ia mandikan anak dan cucikan bajunya. Ibu juga mengobati sang anak dari sakit, memberinya vitamin dan protein, membangunkannya untuk shalat dan berolahraga. Kedewasaan emosional berupa perhatian, cinta, kasih sayang, ketulusan dan sebagainya juga telah ia berikan.
Maka giliran ayahlah mengantarkan anak pada kedewasaan mentalnya (aqil). Ayah harus mengajarkannya berpikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan berkreasi. Adalah kompetensi ayah untuk membuat anaknya menjadi pribadi yang berani, tegas, bertanggung jawab dan berdaya juang. Bahkan, kalau perlu, ayahlah yang mendidik anaknya, laki-laki atau perempuan, untuk tampil beda, melawan, bertarung dan berperang. Begitu pula dengan rasa tanggung jawab, profesionalisme dan bertindak strategis.
Jika saat ini yang terbentuk adalah sebuah generasi yang dewasa secara fisik (baligh) namun sangat mentah secara mental (aqil), alias generasi remaja (baligh-non aqil), siapakah yang bersalah ? Tak salah lagi, malapetaka generasi ini adalah ulah ayah yang tak terlibat dalam mendidik anaknya. Karena dulu, ketika ayah masih bertanggung jawab dalam pendidikan anaknya, yang lahir adalah generasi yang sepenuhnya dewasa (aqil-baligh). Setidaknya itulah yang terjadi hingga akhir abad 19.
Sebuah penelitian menarik dari Badan Narkotika Propinsi DKI Jakarta, juga menyimpulkan bahwa remaja yang kurang dekat dengan sosok ayahnya akan lebih mudah terkena narkoba dibandingkan dengan remaja yang dekat dengan sosok ayahnya. Kesimpulan yang tak terlalu mengejutkan, karena bukankah ayah yang berkompeten dan seharusnya mengajarkan anak untuk ”Say no to drugs” ?
Sibuk ?
Kesibukan mencari nafkah seringkali menjadi kambing hitam yang`sangat ampuh bagi seorang ayah untuk lepas tangan dari pendidikan anak dan menyerahkan tanggung jawab ini seutuhnya kepada ibu. Sesibuk apakah ayah dibandingkan ibu ? Apakah kesibukan itu termasuk main games menjelang pulang kantor, bercengkrama atau menbaca`koran ketika tak banyak kerjaan, atau nongkrong di kafe menunggu kemacetan reda ? Ketika seorang ayah begitu dikepung oleh berbagai kemudahan teknologi informasi dan komunikasi (HP, Blackberry, internet dsb.), apakah masih ada cukup alasan di hadapan Allah untuk tidak turut mendidik anak?
Tentunya seorang ayah tak dituntut untuk secara teknis dan rutin mengurusi pendidikan anak. Ia dapat berperan menjadi pengarah (director) kebijakan pendidikan anak, sedangkan pengelola (manager) dan pelaksana (executor) tetap dapat dilakukan ibu. Sudahkan ayah merumuskan visi, misi dan strategi pendidikan anak di rumah, sesuatu yang dengan terampilnya dia lakukan di kantor? Betapa zalimnya seorang ayah jika hal itupun jika ia bebankan kepada istrinya.
Ayah juga dapat berperan sebagai konsultan pendidikan anak bagi istrinya. Dalam keletihan, kepusingan dan kebosanan dalam menghadapi perilaku anak setiap hari, bukankah seorang istri butuh second opinion dari seseorang suami yang mampu melihat persoalan dari ”jauh” dari ”luar” dan dari ”atas”? Justru jarang dan terbatasnya interaksi rutin dan langsung seorang ayah dengan anak-anaknya, membuatnya lebih mampu untuk menawarkan solusi yang lebih brilyan, jernih, obyektif dan efektif kepada istrinya.
Wallahu ’alam bishawab
Akhirnya modul terakhir selesai, selesai pula tulisan di blog ini. (Lho, asa ngga nyambung! hehe.. gapapa lah).
Mengajak ibu dan ayah atau kerabat untuk menghadiri acara syukuran wisuda adalah saat-saat paling dinanti bagi mahasiswa manapun. Wajah bahagia dan bangga tepancar dari setiap pasang mata yang hadir di sore itu. Sambutan demi sambutan memupuk semangat dan harapan baru untuk para wisudawan. Kilasan susah senang perjuangan perjalanan untuk mencapai titik tersebut berpacu melintas dalam pikiran bawah sadar bersama lantunan lirik melodi.
… betapa berharga kenanganmu
di kala jiwaku tak terbatas
bebas berandai memulang waktu
Satu amanah ini tercapai tak terlepas dari kehendakNya dan dukungan orang-orang baik di sekeliling saya
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan seluruh nikmat, rahmat dan hidayahnya. Terima kasih kepada Dr. Dea Indriani Astuti yang telah memberikan bimbingan, saran, dan kritik selama pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis. Terima kasih kepada Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, atas Program Beasiswa Unggulan selama menempuh program magister bioteknologi di SITH ITB.
Teman yang terhanyut arus waktu
mekar mendewasa
masih kusimpan senda tawa kita
kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk
Kepada teman-teman laboratorium mikrobiologi SITH ITB 2007: Ocit, Nuni, Dayat, t’Danti, t’ Ira, t’Mey, Ferymond, t’ Erna, Olan, t’Ilma, t’Umi, t’Nurul, t’ Wiyan, t’Irma, Ria, Selvi, Jayanti, Rosma, so nice have a chance work together with you all. Untuk semua teman-teman magister bioteknologi 2007 terima kasih atas saat-saat belajar bersama yang penuh sukacita. Saat-saat bersama kalian akan menjadi kenangan yang tak tergantikan di masa yang akan datang. Spesial forBahrelfi dan Arif terima kasih telah menjadi guru pertama dan kedua setelah bapak dan ibu dosen. Indri, mba Dini,Ida, Dini, t’Fety terimakasih telah menjadi teman berbagi atap yang penuh pengertian dengan suasana kebersamaan dalam berbagi ilmu ’kehidupan’. Tak lupa untuk: Euis, Tita, Yeniw, Triw, Nenden, t’Sitiw, t’Silvi, Gantina, mba Nana, Devi, t’Fely, Bu Amy, Bu Tati, juga Dwi, dan Lesly, you are really a great muslimah! Hatur nuhun, Jazakillah atas setiap semangat baru yang ditularkan hingga gelar master ini tercapai.
Hingga masih bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
tegar melawan tempaan semangatmu itu
Untuk ibu, ayah, kakak dan adik-adikku yang selalu mendukungku.
Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini
oh mimpi…
Akhirnya, semoga ilmu ini menjadi amal jariyah, bermanfaat bagi masyarakat dan Ilmu Pengetahuan.
Who has created the seven heavens one above another, you can see no fault in the creation of the Most Gracious. Then look again: “Can you see any rifts?” [Q.S. Al Mulk:3]
lirik melodi:
Lembayung Bali (Saras Dewi) dinyanyikan kembali di acara syukuran SITH ITB wisuda periode April 2010
Sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk menekuni bidang ini. Informasi tentang lowongan tersebut pun berasal dari kebaikan seorang kawan lewat sms. Hari terakhir penutupan, berkas lamaran baru dimasukkan. Itupun tak terlepas dari dorongan seorang sahabat yang sangat ingin memasukkan lamaran juga, tetapi tak bisa dilakukan karena terbentur domisili.
Tahap demi tahap seleksi dilewati.
Panggilan seleksi tahap pertama, “hah ada si A?”, dia kan anak paling pintar di kelas, guru kedua setelah Bapak/ Ibu dosen. Sesi istirahat, ketemu si B, ” ikutan juga?” temen seangkatan yang sudah setahun lebih awal menyelesaikan masternya. Baru mau keluar ruangan,” Eh udah lama ga ketemu “, pas ketemu adik kelas yang satu ini, ‘”ya udah bareng aja sekalian makan siangnya . Tak beberapa langkah, “terlihat si E, si F, si S, si D bahkan bisa sampai Y kalo mau disebutkan semua. Fuh, tampak wajah-wajah familiar yang ikut daftar juga.
Hari berikutnya, saya baru tau 40 orang lebih dari biologi yang melamar pada formasi yang sama. Dua kali lipat dari jumlah bidang farmasi dan kimia yang juga dibutuhkan.
Seminggu kemudian, pengumuman seleksi tahap kedua. ” Satu, dua, tiiga.. tujuh orang biologi yang lolos!” kata temanku yang secara tak sengaja bertemu di depan papan pengumuman. Harapan baru sedikit muncul, setelah menyisihkan 40 orang yang lain. Seleksi berikutnya psikotes dan wawancara. Sedikit lebih antusias daripada seleksi sebelumnya karena tak menyangka bisa sampai pada tahap tersebut. Minggu tersebut berlalu, sangat berharap mungkin, tidak berharap ga juga.
Hari yang dinanti akhirnya tiba, sabtu kemarin pengumuman kelulusan hasil seleksi. Deretan beberapa nama teman dari farmasi dan kedokteran tercantum, tentu saya tau dari gelarnya. Deretan nama teman-teman yang saya kenal dari biologi tak satu pun saya temukan (termasuk nama saya), “mana mungkin tak ada yang diterima”. Saya ulang lagi menelusuri lebih teliti dari atas ke bawah. Aha, ada satu nama yang saya tahu, seorang lulusan biologi dari Universitas Jatinangor. Dua hari yang lalu saya tahu, dua orang yang diterima, seorang lagi adik kelas yang saya tidak tahu nama lengkapnya. Baiklah, belum rejeki.
Cerita tersebut bukan kali pertamanya. Beberapa pengalaman tentang sulitnya melamar pekerjaan di bidang biologi sudah biasa saat ini, baik dialami sendiri ataupun cerita dari teman-teman. Bahkan sampai ada kesimpulan, setiap anak biologi yang melanjutkan S2, artinya sudah menyerah ‘kecapean’ melamar kesana kemari. Well, meskipun tak bisa dipukul rata semua, tapi ada benarnya anggapan tersebut karena kurang lebih hanya 10% yang melanjutkan kuliah karena tuntutan pekerjaan.
Satu lagi pengalaman menarik, di cpns tahun lalu. Lagi-lagi iseng memasukkan lamaran ke sebuah lembaga ilmu pengetahuan milik Indonesia. Sistem penerimaannya yang terbuka, memungkinkan semua orang bisa mengamati siapa yang mendaftar dan siapa yang diterima. Seorang master of bioteknologi terbaik di kampus juga terdaftar sebagai salah satu pelamar, sebut saja X. Ssst beliau ini guru pertama kami lho setelah pak dan bu dosen, soalnya di beberapa matakuliah kami sangat berhutang budi atas kebaikannya untuk kembali mengulang dan menjelaskan beberapa mata pelajaran kepada kami yang agak susah loading. Kami (saya dan beberapa teman) yang kebetulan melamar pun sedikit dengan sukarela dan mempersilahkan kalo X yang diterima.
Sistem rangking bekerja. Sampai di seleksi terakhir, tentu saja X masih tercantum. Pengumuman kelulusan: X bukan orang yang diterima. Kata temanku yang lain yang ada di sana, wawancaranya biasa-biasa aja, tak ada yang yang perlu ditakutkan. Herannya, seseorang yang terbaik di kampus ini pun tak serta merta mudah bekerja. Meskipun saya sepakat, seorang jenius bukan berarti yang paling sukses. Yang ingin saya garis bawahi adalah: bidang ilmu biologi belum bisa banyak menjanjikan bagi para ilmuannya. Tentu saja di negeri ini, saya baru benar-benar paham tentang istilah yang saya kenal semasa SMP, orang-orang pintar pada lari keluar negeri karena di Indonesia belum mendapat penghargaan.
Betul, saat ini bukan saatnya mengeluh, susah cari kerja. Tetapi coba lihat, berapa banyak yang bisa berhasil membangun perusahaan berbasis IPTEK, bisa dihitung dengan jari. Kriteria berbisnis di bidang tersebut (terutama biologi), antara lain: padat modal, padat teknologi, pasar terbatas kalangan tertentu, resiko tinggi. Ups! saya memang belum banyak tahu di bidang bisnis, jadi silahkan dikoreksi kalo keliru
Paparan di atas hanya gambaran bahwa saat ini, biologi dan bioteknologi di Indonesia belum menjadi primadona. Waktu S1 sempat terbersit untuk beralih ke bidang yang lain. Namun takdir lah yang mempertemukan saya lagi dengan biologi. Semoga tulisan saya ini tidak menyurutkan teman-teman atau adik-adik yang baru ingin menekuni bidang biologi, tetapi justru menjadi tantangan!!! dan tetap di bidang ini untuk mengembangkannya di Indonesia.
Akhirnya, saya hanya mau mengatakan, “bagaimanapun, saya suka biologi” hehe, penting ya
Secara tak sengaja saya menemukan kembali buku The Present (Spencer Johnson, M.D) setahun setelah saya menuliskan satu baris tulisan di sini.
Begitu saya baca, saya sadar telah melupakan arti tulisan tersebut, atau mungkin tak begitu paham pada saat menuliskan sebelumnya. Dari situ, saya memutuskan untuk menuliskan setiap kutipan pada buku tersebut secara berurutan, agar lebih terbayang proses penemuan makna ‘The Present’ oleh pemuda yang diceritakan dalam buku tersebut.
***
Anda sudah mengetahui, apa sebenarnya hadiah itu
Anda sudah mengetahui, di mana harus mencarinya
dan Anda sudah tahu, bagaimana hadiah itu bisa membuat Anda lebih bahagia dan lebih sukses
Anda paling mengetahuinya pada saat Anda masih muda,
Anda cuma melupakannya
***
Hadiah itu, The Present, bukanlah masa lalu dan bukanlah masa depan
Hadiah itu, The Present, adalah masa sekarang
***
Bahkan dalam situasi paling sulit
Pada saat Anda fokus pada apa yang benar pada saat ini
itu akan membuat Anda lebih bahagia, dan memberikan apa yang Anda butuhkan
Energi dan rasa percaya diri untuk menangani masalah yang salah hari ini
***
Berada dalam The Present, masa sekarang, berarti menyingkirkan gangguan, dan memperhatikan hal penting, sekarang juga
Anda menciptakan masa sekarang
Anda sendiri melalui hal yang Anda perhatikan hari ini
***
The present berarti fokus pada apa yang terjadi pada saat ini, sekarang! berarti menghargai hadiah yang ditawarkan padamu setiap hari
***
Sulit untuk melepaskan masa lalu, jika Anda belum belajar dari masa lalu
Segera setelah Anda belajar dan melepaskannya, Anda dapat memperbaiki masa sekarang
Setiap kali Anda tidak bahagia dalam masa sekarang, atau merasa kurang sukses, sudah waktunya untuk belajar dari masa lalu atau merencanakan masa depan
***
Lihatlah apa yang terjadi dari masa lalu. Belajarlah sesuatu yang bernilai dari kejadian itu. Gunakan apa yang Anda pelajari untuk memperbaiki masa sekarang.
***
Anda tidak bisa mengubah masa lalu, namun Anda bisa belajar dari masa lalu. Ketika situasi yang sama muncul, Anda bisa melakukannya dengan cara yang berbeda dan menikmati masa sekarang yang lebih bahagia dan lebih sukses
***
Tidak ada yang bisa memperkirakan atau mengendalikan masa depan
Namun, semakin Anda berencana, atas apa yang ingin Anda lihat, semakin kurang kekhawatiran Anda pada masa sekarang
dan Anda semakin mengenal masa depan
***
dimulai hari ini, Gambarkan suatu masa depan yang benar-benar indah
ciptakan sebuah rencana yang realistis untuk membantu mewujudkannya
Tindak lanjuti rencana Anda pada masa sekarang
***
Bagaimana Anda merespon bergantung pada tujuan Anda
Jika Anda ingin lebih bahagia dan lebih sukses, tiba waktunya untuk hadir pada masa sekarang
Jika Anda menginginkan masa sekarang lebih baik daripada masa lalu, sekarang waktunya untuk belajar dari masa lalu
Jika Anda menginginkan masa depan lebih baik dari masa sekarang, sekarang waktunya untuk merencanakan masa depan
***
Jika Anda hidup dan bekerja dengan tujuan, Anda merespon pada hal yang penting sekarang
Anda lebih mampu memimpin, mengelola, mendukung, bersahabat dan mencintai
[12 Januari 2010]
Waktu telah berlalu setahun lamanya, rasanya tak berbekas perjalanan hari-hari itu. Betul sekali rupanya,
setahun kemarin hanya hadir raga, sedang jiwa entah asyik berkelana tak tentu di mana
“Suasana ‘kegembiraan’ khas terbaur memancar dari rumah kecil sederhana yang mulai diramaikan oleh tangis kecil si penghuni baru”
Rumah kecil, sederhana dengan satu kamar tidur, satu ruang tamu merangkap ruang keluarga, dapur, kamar kecil serba guna, dan kamar mandi. Sedikit tampak berantakan, maklum tak ada yang bantu-bantu. Pasangan yang baru dikaruniai seorang putri itu hanya tinggal bertiga disana. Pertama, takjub! karena anak manusia itu begitu kecil dan tak berdaya di balik tempat tidur kecil yang tak kalah lucunya. Kedua, salut atas keberanian temanku yang satu ini, percaya diri mengandalkan insting keibuannya untuk mengurus buah hati pertamanya tanpa bantuan ibu, kakak perempuan atau siapapun yang lebih berpengalaman, namun tetap didampingi suami tentu saja. Padahal tomboinya minta ampun, hobinya aja pake motor ‘cowo’ lupa apa merknya.
Lain halnya, keluarga muda yang satu ini. Di paviliun dengan 3 kamar besar sebagai kamar tidur satu diantaranya itu ‘rapi’ tak banyak perabot di dalamnya. Sebuah bok ayunan menggantung di ruangan tengah, terlihat pemuda kecil tertidur pulas dalam buaian selimut hangat di tubuhnya. Jelas sekali, pasangan muda yang satu ini sangat percaya akan pentingnya pengalaman. Selain mereka tinggal tak jauh dari rumah orang tua, seorang bibi dengan usia paruh baya tampak selalu mendampingi temanku menjaga bayinya selama 3 bulan lalu.
Kisah di atas saya dapat dari hasil kunjungan dua minggu lalu ke beberapa sahabat yang baru mendapatkan predikat sebagai orang tua. Sengaja saya menuliskan kondisi rumah pada setiap permulaan paragraf. Karena hal tersebut secara spontan mengingatkan saya pada sebuah kesimpulan dari rapat lembaga beberapa bulan yang lalu, yang lebih mirip dengan nasehat “Cukup ibu yang rajin” untuk mendidik anak menjadi sehat dan cerdas. Sehat dalam arti pertumbuhan fisik optimal sesuai dengan standar kesehatan anak-anak pada umumnya, dan cerdas yang berarti otaknya berkembang secara positif karena lingkungan mendukungnya.
‘Rajin’ dalam istilah ini, berarti tidak malas, ikhlas, tangkas, lincah, kreatif, terbuka dengan hal-hal baru terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga dan pendidikan anak. ‘Cukup’ berarti sesuatu yang mendukung kesederhanaan kata rajin di depannya, bukan berarti tak perlu peran ayah-topik ini tentu sangat berkaitan, namun tidak akan saya bahas disini. Namun demikian saya menuliskan dalam kurung (ayah juga) untuk menegaskan bahwa peran ayah tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak.
”Ibu rumah tangga’ disingkat IRT. Tampaknya gampang dan sederhana bukan profesi tersebut? Iya, kalo di rumah ada para pelayan khusus-mengasuh anak, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, berkebun, belanja- seperti di rumah konglomerat di telenovela zaman dulu. Meskipun itu juga tak menjamin anak-anak tumbuh menjadi anak sholeh dambaan setiap orang tua. Dibutuhkan skill khusus agar semua pekerjaan rumah beres, anak-anak sehat cerdas dan sholeh semua bahagia. Meskipun tampak sepele pekerjaan rumah tangga sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga.
Tak percaya? silahkan mengamati kehidupan keluarga di sekitar lingkungan Anda: keluarga, tetangga, sahabat.
Si Ibu, marah-marah terus kerjaannya, ” si adek kalo maen ga diberesin lagi, ibu tuh cape, beberes seharian, nyuci baju, masak, bla bla bla”, lalu, ” kakak ayo belajar, pulang sekolah, sepatu bukannya disimpen, baju ditaruh sembarangan, bla bla bla”, kemudian seharian mood sang ibu tidak enak.. wajah murung, ngomel kesana kemari tidak jelas. Bagaimana bisa mendidik anak kalo seharian sudah dirundung kesal karena merasa seharian tidak berhenti bekerja. Dalam kasus ini si Ibu sudah ‘rajin’ dalam artian mengerjakan semua pekerjaan rumah, tetapi belum ikhlas-buktinya diungkit-ungkit sambil marah-marah.
“Adek ayo makan dulu”, kata si ibu. Lagi asyik dengan mainannya, si adek tak menyahut. ” Adek cepet makan dulu!, ibu lagi setrika baju nih, kamu disuruh makan aja susah!” Lalu si ibu mendekat dengan membawa sepiring nasi makan siang si adek. ” Makan sendiri, kalo ibu balik harus udah habis makannya,” lalu si ibu kembali dengan aktivitasnya membereskan setrikaan baju hari ini. Meskipun sedikit memaksa, sikap si ibu masih lumayan, mau mengambilkan anaknya makan siang. Untuk kasus yang lebih ekstrim, si ibu tidak hanya tidak mengambilkan makanan untuk anaknya, tetapi bahkan tidak memasak untuk anaknya! Alasannya bisa macam-macam: tidak sempat belanja, seharian mengantar anak ke sekolah, anaknya ga suka makanan rumah, dll. Akibatnya, anak-anak tidak terbiasa dengan makanan rumah, terbiasa hidup konsumtif, jajan, makan makanan tidak bergizi.
Dua ilustrasi di atas hanya sedikit gambaran, rutinitas ibu rumah tangga dengan kesibukan rutinnya sepanjang hari. Tentu, akan berbeda lagi cerita bagi ibu bekerja, yang sebagian besar waktu siangnya tak berada di rumah. Satu tips yang pernah disampaikan oleh Mbak Helvi Tiana Rosa dalam sebuah seminar untuk ibu yang sibuk (baik bekarir maupun ibu rumah tangga). Intinya adalah bagaimana seorang ibu pandai mengelola emosinya. Apapun kondisi emosinya, lelahnya, ruwetnya permasalahan sehari-hari. Jika pada hari itu, ibu harus berhadapan dengan anak-anak, hal yang utama adalah jagalah agar sebersit senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Kedua adalah komunikasi, dengan emosi yang terjaga, komunikasi akan lebih lancar. Bagaimana caranya, agar maksud yang ingin disampaikan pada anak sampai dengan tepat sasaran sehingga tidak salah tangkap dan salah paham.
“Perhiasan dunia adalah istri shalihah”
Kenyamanan sebuah rumah, sangat dipengaruhi oleh sentuhan kasih sayang seorang ibu. Mudah saja bagi saya yang terbiasa nomaden (numpang sana sini rumah saudara atau kos) untuk membedakan kenyamanan sebuah rumah. Sangat nyaman dan tenang, jika ibu yang punya rumah ‘rajin’ penuh kasih sayang. Berbeda sekali jika sehari-hari bertemu dengan ibu yang kerjanya uring-uringan-gosip di rumah tetangga-’malas’!.
“Surga di bawah telapak kaki ibu”
Seorang kawan, menuliskannya sebagai quote paling disukainya di salah satu situs jejaring sosial. Saya pun sepakat dengannya. Hari ini bertepatan dengan tanggal 22 Desember 2009 Hari Ibu Nasional. Tak akan cukup berjuta kata untuk menggambarkan betapa jasa ibu kita tak ternilai harganya hingga kita telah menjadi seseorang yang ada pada detik ini. Tak berhenti saya bersyukur telah dilahirkan dari seorang ibu yang tak pernah kenal lelah memberikan curahan kasih sayangnya kepada kami anak-anaknya.
Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo
“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Doa diatas disarikan dari Al Isra: 24, Ibrahim:12, dan Nuh:28 [1]. Menurut seorang psikolog, doa diatas mempunyai arti yang dalam dengan kalimat penutup “.. mendidik aku waktu kecil”. Kalimat tersebut adalah sebuah prasyarat, bagi para orang tua untuk mendapatkan doa dari anaknya.
Untuk sahabat-sahabatku yang telah mendapat amanah menjadi ibu atau bapak, selamat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. “Cukup (menjadi) ibu yang rajin” (Ayah juga), jika ingin mendapatkan amalan yang tak putus pada saat kita sudah tiada dari doa anak-anak kita kelak.
-Wallahu’alam bishowab-
Referensi:
http://media-islam.or.id/2008/03/06/doa-untuk-ibu-bapak-orang-tua/ (dibaca 22 Desember 2009)
Sudah sejak bulan Juli yang lalu saya menuliskan judul tulisan di atas sebagai naskah tulisan di blog saya, namun baru hari ini bisa ditindak lanjuti. Karena dua hari yang lalu ada kisah ‘lambat, paling lambat dan akhirnya terlambat’ yang efeknya sangat terasa, padahal kejadiannya sudah berbulan-bulan lalu lamanya atau bahkan bertahun-tahun lalu.
Pernah dengar ungkapan ‘biar lambat asal selamat’? Saya yakin setiap orang pernah mendengarnya. Istilah tersebut biasanya muncul saat kita sedang berkendara, yang artinya lebih dekat sebagai ungkapan kehati-hatian. Lebih baik lambat di jalan raya, daripada ngebut jadi celaka. Pada konteks tersebut, saya setuju dengan ungkapan tersebut.
Akan tetapi jangan coba-coba untuk membiarkan ‘lambat’ mewarnai kegiatan Anda sehari-hari karena seperti judul tulisan ini, dampak ‘lambat’ tersebut bisa jadi ‘paling lambat’ dan akhirnya’terlambat’. Secara sekilas tampak seperti sama, diantara ketiga istilah tersebut, namun lebih tepat jika ketiganya adalah suatu sebab akibat yang berhubungan satu sama lain.
ngga percaya? saya sudah mengalaminya.. berikut kasus-kasus keterlambatan saya:
Entah terbentuk dari lingkungan keluarga, entah dari bawaan saat bayi? seingat saya sejak masa sekolah, saya selalu terlambat masuk sekolah atau injury time pas bel masuk berbunyi. Kebiasaan tersebut sangat sering terulang terutama saat SMP, karena berangkat sekolah selalu diantar sama ayah, jadi tergantung pengantar berangkat jam berapa. Bagian ini bukan sepenuhnya kesalahan saya. Selanjutnya kebiasaan terlambat masuk sekolah terbawa sampai masa kuliah. Sampai-sampai di akhir tingkat pertama (TPB) saya dapat julukan ‘tukang telat’ , huh jelek sekali ya.
Terlepas dari berbagai kondisi lain di rumah yang mendukung saya menjadi ‘tukang telat’, sampai detik ini, datang tepat waktu pada suatu acara rasanya lebih menyenangkan, daripada datang lebih cepat, lalu menunggu sampai acara dimulai. Akibatnya kalau ada masalah2 seperti jalan macet, ban kempes, angkot ngetem, dll yang mengganggu, maunya tepat waktu jadi telat waktu deh.
Betul kata pepatah, bahwa kebiasaan adalah hal-hal yang 80% terjadi di alam bawah sadar kita, semua kejadian telat tersebut secara tak sadar sudah jadi kebiasaan.
keterlambatan tragis yang lain..
Waktu tingkat dua kuliah, ada kegiatan kunjungan industri di pusat bunga potong di Lembang. Sebagai pendatang, kegiatan kunjungan di tempat-tempat wisata baru di Bandung tentu sangat dinanti-nanti. Entah apa sebabnya, pukul 07.00 kumpul di gerbang kampus tak tercapai oleh saya. Akibatnya, sampai di depan kampus yang tersisa hanya jejak teman-teman yang tadi berkumpul di sana plus jejak kendaraan yang membawa mereka bertamasya ke Lembang. Dengan sedikit rasa tak percaya, saya tertinggal rombongan tersebut dan tidak jadi ikut dalam perjalanan.
lagi..
Kali ini saya menjadi panitia kegiatan unit di Salman, acara pelantikan anggota baru. Kumpul jam 06.00 berangkat dari Salman ke Ciwidey. Karena kelelahan tidur kemalaman, tak disangka jam beker yang biasanya berbunyi nyaring di pagi hari tak terdengar sama sekali. Belum lagi kegiatan rutin beberes di pagi hari, mustahil rasanya bisa tiba tepat waktu. Di angkot pun saya cuma bisa pasrah.. sudah pasti ketinggalan. Malu setengah mati yang pasti, beberapa persiapan outbond yang dibuat pun tak jadi digunakan karena ada di saya. Hanya permintaan maaf yang tulus dari dalam hati yang bisa saya sampaikan untuk teman2 panitia yang lain saat itu.
lalu beberapa kali atau lebih tepatnya berkali-kali terpaksa bolos kuliah karena lagi-lagi jam tujuh terlalu pagi untuk saya tiba di kampus.
Laporan kerja praktek (KP) yang terlambat diserahkan, akibatnya nilai E terpaksa mengambil lagi semester depan. Tak selesai sampai disitu. Kasus nilai KP menyebabkan image tak baik di mata dosen wali, akibatnya tak diizinkan mengambil mata kuliah seminar di semester yang sama. Dampaknya, tak disangka-sangka, meski telah selesai skripsi seminar sidang di bulan Oktober, tak bisa ikut Wisuda, karena kuliah seminar tak bisa keluar di tengah semester. Setelah mencari diplomasi kesana kemari, TU, prodi sampai wakil dekan bidang akademik, tak bisa dipungkiri, wisuda Maret jadi tak menarik lagi.
Beberapa teman sering merasa heran, saya masih tetap terlihat tenang, meskipun ada deadline tugas, ujian dalam waktu dekat, terlalu plegmatis kali ya. Sampai akhir semester yang lalu..
Kejadian terkait keterlambatan tersebut bertubi-tubi melintas di benak saya begitu nyata pada saat saya sadar, saya telah jatuh pada lubang yang sama dua tahun yang lalu-saya gagal mengikuti seminar tesis akhir bulan Juli lalu karena terlambat mendaftar ke koordinator seminar. Meski beribu alasan bisa saya tulis disini untuk nge-les, faktanya saya telah mengulang kesalahan yang sama sampai bertahun-tahun lamanya.
Menyesal? pasti.. lalu apa buktinya?
SITH akan mengadakan seminar internasional tentang produksi biomassa akhir November 2009 nanti. Suatu kebanggaan bagi seorang peneliti untuk bisa mempublikasikan karyanya. Dosen, mahasiswa alumni, berlomba-lomba memasukkan hasil penelitiannya untuk dapat dipublikasikan pada event tersebut-mumpung di lingkungan sendiri. Sejak batas waktu abstrak belum berakhir saya pun punya keinginan yang sama, toh penelitian sudah selesai tinggal ditulis dalam bentuk tesis. Namun sampai batas waktu pengumpulan abstrak tiba, saya ternyata belum bisa menyelesaikan draft kedua tesis saya yang rencananya akan saya serahkan bersamaan dengan memohon izin mempublikasikan hasil penelitian di seminar. Sejak itu, pupus sudah harapan untuk berpartisipasi dalam seminar nanti.
Dua hari yang lalu, Seminar Internasional tentang Produksi Biomassa yang diselenggarakan SITH berlangsung. Tak ikut seminar tak menghalangi saya untuk melihat pameran produk biologi di Aula Timur. Keluar aula timur, tak disangka bertemu dengan dosen pembimbing dari arah berlawanan. Lalu beliau bertanya,” Arry kenapa ga ikutan presentasi?”..” hehe ngga Bu..” seperti kehabisan kata-kata saya menjawab pertanyaan beliau tetapidalam hati menjawab, ” pengen sekali bu..” Lagi-lagi saya terlambat tahu, kalau dosen pembimbing saya akan mendukung saya untuk ikut seminar, meskipun entah apa kabar tesis saat itu.
penyesalan-tinggal penyesalan tak ada gunanya tanpa kesungguhan untuk memperbaiki kesalahan.
Mungkin masih banyak kasus2 lambat-paling lambat-dan terlambat yang lain dan secara tak sadar menyebabkan hilangnya kesempatan-kesempatan penting di depan mata. Meski kebiasaan demikian terbentuk secara tak sadar, saya yakin sedikit demi sedikit akan berubah seperti halnya sekeras-keras batu, lapuk jua jika setiap hari terkikis oleh air. Susah dan butuh perhatian penuh untuk dapat mengubah kebiasaan lama. Perubahan adalah pembelajaran, proses belajar adalah proses dimana kita mulai membiasakan diri dengan perubahan-perubahan baru yang lebih baik, pada saat tersebut diperlukan kesadaran penuh untuk menjalaninya.
Meski lebih mirip curhat saya berharap, semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi saya dan juga Anda. Betul, pengalaman adalah guru terbaik, tetapi belajar dari pengalaman orang lain adalah pilihan yang lebih bijaksana.
Di usianya yang kini hampir 74 tahun, seorang guru besar Prof. Dr.H. Ing B.J. Habibie masih belum bisa merasakan ketentraman dalam hidupnya. Beliau mengatakan, meski hidupnya tampak berkecukupan, ketentraman masih jauh dirasakannya. Bagaimana tidak? penghuni lain yang satu ‘rumah’ dengannya banyak yang masih menderita. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan dapat dengan mudah ditemukan dimana-mana di negeri ini.
Hari ini, untuk kedua kalinya saya dan mungkin teman2 mahasiswa ITB yang lain punya kesempatan secara langsung untuk menimba ‘asam-garam’ intelektual beliau.
Detail data-data statistik perhitungan ekstrapolasi tentang jumlah penduduk Indonesia di tahun 2045, membawa kami membayangkan gambaran kondisi angka kemiskinan Indonesia di masa tersebut. Angka pertumbuhan ekonomi, tingkat pendapatan, angka kematian, jumlah kelahiran, jumlah usia produktif baik pada tahun 2005, 2025 dan nanti 2045 dipaparkan beliau hingga perkiraan berapa banyak orang yang harus ditanggung kehidupannya pada tahun 2045 nanti. Lalu bisa diketahui jumlah orang yang membutuhkan lapangan pekerjaan pada tahun tersebut sekaligus tingkat ketentraman pada tahun tersebut.
Perjuangan memang untuk dapat tetap ‘nyambung’ dalam kuliah presidential pertama yang diprakarsai oleh Kalam Salman ITB, IA ITB, IA Gamais ITB, tersebut. Pak Habibie dengan logat khasnya memaparkan visi Indonesia-Tentram 2045 daripada Super Power 2045. Jika Amerika adalah negara super power dengan militernya, mungkin Indonesia Super Power akumulasi persoalan sosial, alias Super Power ‘problem’nya. Coba bayangkan, sekitar 300jt lebih orang pada tahun 2045 akan memadati benua maritim (maritim continental) tanpa ada pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
“Problem bagi seorang ilmuan adalah awal dari Progress” kata beliau kemudian (langsung semangat! kalo tesis bermasalah berarti awal dari kemajuan berikutnya ya amiin). Jadi tak masalah, jika problem tersebut ada, asalkan kita (manusia) sebagai sumber masalah tersebut dapat proaktif menyelesaikan masalah yang dihadapi.
be rasional, be fair, be measurable! this is your home, take your inisiative, professional, terperinci dan sistematik dalam menyelesaikan masalah. Akumulasi persoalan sosial, di Indonesia beliau garis bawahi pada permasalahan perkotaan. Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk perkotaan meningkat, antara lain disebabkan oleh keberadaan lapangan pekerjaan di daerah perkotaan.
Permasalahan yang mengikuti perkembangan perkotaan, dapat diatasi dengan menerapkan konsep Integrated Industri, apakah itu?. Integrated industri adalah Industri yang berdiri kokoh sehingga dapat mendukung berdirinya industri-industri yang lain, baik itu industri hilir maupun hulu. Bingung ya?saya yang bingung, misal ada pabrik tempe di suatu daerah, seharusnya adanya pabrik tersebut dapat menguntungkan juga petani kedelai di sekitarnya, juga pengelola rumah makan tempe. Sehingga terbentuk kawasan ekonomi terpadu (KAPET).
How?
Beberapa solusi yang beliau tawarkan untuk mewujudkan KAPET antara lain:
Adanya UU import subtitution, melindungi produksi dalam negeri.
Penghijauan minimal 30-60% untuk setiap kawasan perkotaan.
Pengelolaan air minum, air hujan, limbah rumah tangga yang terpadu dengan teknologi tepat guna.
Hemat energi fosil, optimalisasi energi alternatif: geotermal, biogas, biofuel, dll
Pendidikan sesuai dengan kebutuhan pasar produk andalan kota.
Organisasi sampah, karena selama ada manusia, di situ ada sampah.
Pra sarana ekonomi berbiaya rendah
Pengembangan pemanfaatan teknologi informasi sebagai sistem terpadu dari sistem informasi nasional dan global
dan lain-lain.
(jadi inget pelajaran PPKn zaman SD-SMP, bedanya lebih hidup karena langsung dari kakeknya para guru)
Sebenarnya ‘Indonesia kaya’ tetapi tetap ‘miskin’ why? Bagaimana penyelesaiannya?
Dibutuhkan suatu keberanian untuk menghadapi zaman. Beralih dari pengandalan SDA ke pengandalan SDM. Hanya berbekal 20 orang S1 20 orang S2 dan 3 orang S3 beliau berhasil mendirikan industri berbasis teknologi paling canggih. PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Pal Indonesia, PT Krakatau Steel, adalah industri-industri yang pernah digagas oleh beliau. Pada saat beliau harus meninggalkan industri tersebut karena diangkat menjadi wakil presiden (pemilu zaman pak Harto) telah tercetak 36000 lebih tenaga ahli yang semuanya orang pribumi asli Indonesia. Pak Habibie meyakinkan bahwa kita Bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa yang lain.
Tentunya SDM yang dimaksud beliau adalah tak sembarang Sumber daya Manusia. SDM yang dibutuhkan adalah SDM dengan Iman dan Taqwa (IMTAQ) yang kokoh serta memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang kuat. Keseimbangan diantara dua aspek tersebut tak bisa dipisahkan, seperti halnya pesawat terbang, ada sayap kiri tetap tak bisa terbang tanpa adanya sayap kanan. Semua itu takkan terwujud tanpa adanya kedaulatan negara. Indonesia sudah merdeka, namun apakah kedaulatan telah benar-benar tertanam mengakar dalam setiap diri anak bangsa?
Masalah ada di dalam rumah sendiri, siapa lagi kalo bukan kita, penghuni rumah yang menyelesaikannya? Pupuk selalu percaya diri untuk selalu berkarya! this is your home, take your inisiative!…
…dan kami pun terbakar semangat, untuk menjadi bagian dari kebangkitan nasional Indonesia 1928. “mungkin, saat ini diantara kalian, di tahun 2045 nanti adalah orang yang akan menjadi pemimpin bangsa ini, dan akan menjadi Habibie yang lain pada masa itu” Pak Hermawan K.D. mengulang kata-kata Pak Habibie sebelumnya sambil menutup presidential lecture.
“amiin” seisi aula barat ITB menggema mengiringi doa-harapan masa depan tersebut.
Pak Habibie aja yang telah nyata berkontribusi untuk Indonesia masih belum bisa tentram hidupnya, Kamu, Anda, Aku siapa? hanya bisa menuntut dan mengeluh atas penderitaan yang ada.
“Sesungguhnya perjuangan seorang muslim sejati belum berhenti sampai kedua telapak kakinya menginjak pintu surga” (Al hadist)